Kamis, 07 Juni 2012

Menuju matahari, terbakar dalam lukanya hening.

Astu bantu aku…
Badai amanah menampar,
sedang tubuh terpapar flu…. (Qava)
Rebahkan badanmu dan tanggalkan sayapmu… (Astu)

Bolehkah bersandar di sayapmu? (Qava)

Alam bawah sadarmu akan menjemputmu dalam hitungan detik…
Bersandarlah, kan kubelai… (Astu)

Hmmm…. (Qava)

Ataukah ingin kau hempaskan? (Astu)

Terhempas oleh badaimu?? Aku mau. (Qava)


Menjelang senja ini apa yang kau rasa Qava?
Jantungku berdebar kencang, jemariku dingin…
Ditemani burung2 yang melompat-lompat riang di hijaunya taman..
Aku tak menyimak kicauannya… (Astu)

Aku lelah, Astu…
Berjejalan tugas-tugas berebut perhatianku… (Qava)

Tuntaskan amanahmu, Qava (Astu)

Aku ingin tetap singgah di ceruk dalam….
Sesaat rebah…
Astu, aku perlu… (Qava)

?
Kamu.

Hmmm….
Ungkapkan, Qava…

Hiks

Ya Qava?

Hibur aku…

Caranya?  ….aku buta, Qava…

Jika buta, pakailah mataku…

Qava, aku benar-benar buta… sama sekali tak mampu meraba…
Maafkan…

Duduk dekatlah sini…
Cukup kudengar detak jantungmu, telah menenangkanku…

Sudahkah kau dengar kencangnya detak jantungku?
Dingin menyusup ke seluruh syarat dan nadiku, menyergap kuat…

Lebih rapat, Astu…

Kembangkan sayapmu… aku ingin sembunyi…

(Menarik nafas.. berharap udara yang kutahan dalam dada membuat lebih hangat…)

Bolehkah aku terlelap di dalamnya?

Kenapa tidak? Karena aku juga nikmati irama detak jantungmu…

Damai…

Ini sihir kata-kata… aku merasa benar-benar tenang.

Benarkah ?
Ada damai dan debar…

Hmmm… aku sangat menikmati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar