Kamulah energi
genangan damai
semangat yang membeku sebagai dinding kawah
Kau kutuk aku dengan puisimu
berjaga di setiap detik waktu
sampai kau sudahi rinduku
yang tak akan pergi kemanapun.
adalah kisah tentang dua manusia yang terlahir dengan dua sayap di punggungnya. Mereka menyimpannya rapat-rapat, berharap tetap dianggap sebagai manusia normal, hingga suatu hari mereka bertemu. Astu dan Qava dalam cinta yang aneh. Jika suatu hari kau temukan senja dengan langit jingga, dan sekelebat ada dua titik hitam di langit mungkin itu mereka; beterbangan memadu kasih. Senja yang indah adalah milik mereka.
Senin, 18 Juni 2012
Kangen (Qava)
Kangen adalah perlawanan atas waktu yang menggauli sepi
adalah ketiadaan yang mendominasi ...
menggerogoti kata hati
saat sunyi serupa belati
merobek jiwa hingga terkuliti
Aku terluka sayang
luka yang menganga
hanya jelaga harga diri yang membuat paksakan bertahan
namun malam, menjadi jeda nada
Bukti aku tak lagi kuasa
terkulai oleh dahaga rindu yang menjadi-jadi....
adalah ketiadaan yang mendominasi ...
menggerogoti kata hati
saat sunyi serupa belati
merobek jiwa hingga terkuliti
Aku terluka sayang
luka yang menganga
hanya jelaga harga diri yang membuat paksakan bertahan
namun malam, menjadi jeda nada
Bukti aku tak lagi kuasa
terkulai oleh dahaga rindu yang menjadi-jadi....
Kamis, 07 Juni 2012
Menuju matahari, terbakar dalam lukanya hening.
Astu bantu aku…
Badai amanah menampar,
Badai amanah menampar,
sedang tubuh terpapar flu…. (Qava)
Rebahkan badanmu dan tanggalkan sayapmu… (Astu)
Bolehkah bersandar di sayapmu? (Qava)
Alam bawah sadarmu akan menjemputmu dalam hitungan detik…
Bersandarlah, kan kubelai… (Astu)
Hmmm…. (Qava)
Ataukah ingin kau hempaskan? (Astu)
Terhempas oleh badaimu?? Aku mau. (Qava)
Menjelang senja ini apa yang kau rasa Qava?
Jantungku berdebar kencang, jemariku dingin…
Ditemani burung2 yang melompat-lompat riang di hijaunya taman..
Aku tak menyimak kicauannya… (Astu)
Aku lelah, Astu…
Berjejalan tugas-tugas berebut perhatianku… (Qava)
Tuntaskan amanahmu, Qava (Astu)
Aku ingin tetap singgah di ceruk dalam….
Sesaat rebah…
Astu, aku perlu… (Qava)
?
Kamu.
Hmmm….
Ungkapkan, Qava…
Hiks
Ya Qava?
Hibur aku…
Caranya? ….aku buta, Qava…
Jika buta, pakailah mataku…
Qava, aku benar-benar buta… sama sekali tak mampu meraba…
Maafkan…
Duduk dekatlah sini…
Cukup kudengar detak jantungmu, telah menenangkanku…
Sudahkah kau dengar kencangnya detak jantungku?
Dingin menyusup ke seluruh syarat dan nadiku, menyergap kuat…
Lebih rapat, Astu…
Kembangkan sayapmu… aku ingin sembunyi…
(Menarik nafas.. berharap udara yang kutahan dalam dada membuat lebih hangat…)
Bolehkah aku terlelap di dalamnya?
Kenapa tidak? Karena aku juga nikmati irama detak jantungmu…
Damai…
Ini sihir kata-kata… aku merasa benar-benar tenang.
Benarkah ?
Ada damai dan debar…
Rabu, 06 Juni 2012
Senyap penghujan
Senyap penghujan, ramaikan dengan cinta…..
Sunyi sembunyi di sayapnya…
Terlelap di antara bulu-bulunya.
Lalu di mana rindu kau simpan?
Lapangkan dadamu…
Kutitipkan rinduku padamu.
Aku simpan.
Jaga rinduku… Haram kau lukai…
Puisi adalah energi…
Membuat jantung berdebar menawarkan sejuta makna…
Terbang, menelusup ke piranti black berry-mu…
Menguasai layar monitor, lalu merembes ke retina matamu…
Mataku mendidih….
Sayup terdengar… “rindu padamu Qava…”
Aku menembus liang syaraf…
Berenang dalam gelembung-gelembung benakmu
Ingin mengunyah semua yang kau fikirkan… Astu
Aku dalam kenanganmu, aku dalam harapanmu, aku dalam ilmu apapun yang pernah kau kecap….
Menyelam dalam rahsamu…
Menyelam dalam pekat rindumu…
Qava
Qava
Qava
Langganan:
Komentar (Atom)